DAPATKAN ARTIKEL TERBARU

Saturday, May 21, 2016

Mengapa Perlu Melakukan Editing?


Salah satu tahap dalam dalam kepenulisan adalah editing. Sukino (2010: 29) menyatakan bahwa editing merupakan tahapan yang berkaitan dengan penulisan secara final. Editing fokus pada masalah mekanik, seperti ejaan, penggalan kata, kata hubung, struktur kalimat, dan sebagainya. Maksud dilakukan editing adalah supaya tulisan memiliki tingkat keterbacaan yang baik. Artinya, pembaca akan mudah memahaminya. Jarak antara pembaca dan ide menjadi lebih dekat dan tulisan itu juga lebih komunikatif. 

Mengapa Perlu Editing Sebelum Menawarkan Menawarkan ke Penerbit?

Banyak sekali naskah masuk setiap hari kepada penerbit, terutama penerbit besar. Karena editing memerlukan proses yang lama, maka editor penerbit ‘tidak sempat’ atau lebih tepatnya tidak akan melakukan editing naskah yang amburadul. Lalu, apa yang akan dilakukan penerbit? Rata-rata mereka akan men-delete, sebagus apa pun isi naskah itu. Kejam, ya? Saya katakan, “tidak.” 

Kepuasan pasar (pembaca) lebih utama bagi penerbit. Jadi, wajar, kan, kalau mereka (penerbit) menginginkan naskah yang sudah jadi? Maksudnya tidak ada lagi masalah ketatabahasaan di dalamnya. Wajar juga kalau saat ini cukup banyak editor lepas yang menawarkan jasa editing naskah dengan pembayaran dihitung setiap halamannya. 

Lalu, apa kerja editor di penerbitan? Editor di penerbitan inilah yang menjadi pintu awal masuk penerbit. Di sinilah penentuan naskah akan diterbitkan atau tidak. Setiap harinya bisa berpuluh naskah masuk ke e-mail atau ke kantornya. Jadi, yang diurus bukan hanya satu naskah, melainkan banyak naskah setiap harinya. Jadi, wajar saja kalau naskah yang ketatabahasaannya amburadul langsung di-delete.


Oleh karena itu, seorang penulis harus menyiapkan sematang mungkin naskah yang hendak dihantar ke penerbit. Jangan sampai belum dibaca sepenuhnya oleh editor, naskahnya sudah di-delete alias ditolak duluan. Lalu, bagaimana dengan penulis tulen? Maksudnya, penulis yang hanya bisa menuangkan ide tanpa paham ketatabahasaan. Gampang. 

Saat ini banyak editor ‘lepas’ (maksudnya tidak terikat oleh penerbit) yang siap untuk memperbaiki naskah. Mereka menawarkan jasa editing naskah yang bisa dibayar pernaskah atau perlembarnya, tergantung kesepakatan antara penulis dan editor.

Di atas sudah dibahas perihal editing lebih menekankan kepada ketatabahasaan. Berikut pembahasan aspek-aspek yang perlu diperhatikan saat proses editing.

1. Keterbacaan. Hal paling utama dalam proses editing adalah keterbacaan. Apa itu keterbacaan? Keterbacaan dapat diartikan sebagai bentuk fisik tulisan. Ejaan, penggalan kata, kata hubung, struktur kalimat, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan bentuk fisik tulisan. 

2. Ketepatan data dan fakta. Ketepatan data dan fakta yang mendukung atau menjadi rujukan dalam tulisan juga perlu dipertimbangkan. Data dan fakta harus benar-benar valid. Sangat tidak diperkenankan seorang penulis menggunakan data dan fakta yang asal-asalan, karena akan memengaruhi kualitas tulisannya.

3. Kesopanan dan kelegalan. Ini juga masih menyangkut ketatabahasan. Penulis harus memerhatikan kesopanan bahasa yang digunakan. Sangat disarankan untuk meminimalisasi bahasa atau kata-kata yang kasar, menyinggung, terlalu vulgar, dan kata yang lain yang tidak layak untuk dibaca. Mengenai kelegalan, penulis harus ekstra hati-hati dalam memilih dan memilah kata-kata yang digunakan, terutama dalam penggunaan istilah-istilah, terutama istilah-istilah asing. Sampai saat ini masih banyak istilah asing yang belum legal. Maksudnya, istilah-istilah tersebut belum diserap dan diresmikan sebagai salah satu kosakata bahasa Indonesia. 

4. Konsistensi (sesuai dengan aturan yang berlaku). Bahasa Indonesia, sama seperti bahasa-bahasa lainnya, ada kaidah atau aturan yang harus dipatuhi. Banyak sekali penulis yang gagal menerbitkan bukunya karena tidak memahami dan menerapkan aturan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Oleh karena itu, seorang penulis harus menyesuaikan tulisannya dengan kaidah bahasa yang berlaku saat itu, mengingat kaidah ketatabahasaan selalu mengalami perkembangan yang berarti perubahan, terutama kaidah bahasa Indonesia.

Praktik Melakukan Editing Sendiri
Melakukan editing sendiri? Bisakah? Melakukan editing sendiri bisa dikatakan sulit, bisa juga dikatakan mudah. Sulit karena tidak mau belajar dan melakukan. Mudah karena mau belajar dan melakukan. Berikut langkah-langkah sederhana yang mudah dilakukan dalam praktik editing naskah secara pribadi atau editing naskah sendiri.

1. Baca kembali naskah yang sudah jadi. Langkah pertama yang harus dilakukan penulis adalah membaca kembali naskahnya. Karena yang akan di-editing itu naskah atau tulisan, maka penulis dituntut untuk membacanya. 

2. Lakukan pengecekan dan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahan yang ada. Sambil membaca, penulis dapat sekaligus mengecek naskahnya, di bagian-bagian mana yang terjadi kekurangtepatan atau kesalahan. Tentu saja pada bagian ini penulis harus menguasai kaidah bahasa yang digunakan. Bila ia menggunakan bahasa Indonesia, maka ia harus menguasai kaidah bahasa Indonesia, sehingga mampu mengoreksi dengan baik ketatabahasan tulisannya.

3. Baca kembali. Setelah selesai melakukan editing, penulis harus membaca kembali naskahnya yang sudah diedit. Kalau perlu lakukan editing secara mendalam. 

4. Jika diperlukan, diskusikan dengan orang yang paham tentang kaidah bahasa. Diskusi atau konsultasi sangat diperlukan untuk mendapatkan masukan-masukan, demi kebaikan naskah itu sendiri. Namun, penulis harus jeli memilih konsultan yang tepat dalam masalah ini. Konsultan yang bisa membangun naskahnya menjadi lebih baik dan layak untuk dikirimkan ke penerbit.

Demikian pembahasan tentang editing. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba. Tidak sulit, bukan?


----------------------------------------------------

Dapatkan artikel terbaru kami
Dengan masukkan nama dan email Anda di bawah ini




BERMANFAAT? Boleh SHARE Klik Di Bawah Ini

No comments:

Post a Comment

Catagories

SEARCH