DAPATKAN ARTIKEL TERBARU

Wednesday, May 4, 2016

Inilah 6 Langkah Menulis yang Biasa di Lakukan Penulis Penulis Terkenal


Andrea Hirata, Tere Liye, Asma Nadia, Raditya Dika, Kang Abik, Helvy Tiana Rosa, Dewi Lestari, ada yang kenal mereka? Minimal satu saja. Jika tidak ada, bertobatlah, he. Jika ada beryukurlah. Aman ini bukan tulisan religi kok.

Beberapa orang yang dituliskan di atas adalah beberapa penulis terkenal di Indonesia, bahkan beberapa diantaranya sudah memiliki nama di luar negeri. Dan tentunya tidak sebatas itu, ada banyak yang lagi penulis indonesia yang tidak bisa dituliskan semuanya satu persatu dalam tulisan kali ini.

Tentunya kamu sudah menebak apa yang akan dibahas kali ini. Betul buanget... kita akan sama-sama mengintip dan mengikuti apa saja sih yang dilakukan para penulis terkenal sehingga membuat tulisannya baik dan benar, yuk kita intip...

1.  PREWRITING
Dalam tahapan ini setiap penulis memiliki gaya dan cara yang berbeda, tapi intinya sama yaitu menghasilkan tulisan yang nantinya akan dibaca dan dinikmati oleh banyak orang sekaligus memberikan manfaat kepada mereka.

Prewriting atau persiapan sebelum menulis sangat penting dilakukan untuk mengetahui arah tulisan yang akan dibuat. Secara umum inilah yang dilakukan para penulis terkenal sebelum memulai tulisannya.

Pertama, kita perlu memikirkan tulisan apa yang akan dibuat. Anak-anak, remaja, percintaan, keluarga, tips-tips, horor, dan yang lainnya. Hal ini penting dilakukan untuk mengetahui bagaimana tulisan ini nantinya. Dengan mengetahui jenis tulisan, secara tidak langsung akan terpikirkan kepada siapa tulisan ini akan dibaca. Apakah targetnya anak-anak, remaja, atau orang dewasa, bahkan umum.

Setelah memutuskan jenis apa yang akan ditulis, pikirkan alasan dari inti tulisan itu nantinya. Tere Liye dalam seminarnya di Universitas Bengkulu 1 mei 2016 lalu, hal penting sebelum memulai sebuah tulisan adalah temukan “so what” dalam tulisan  yang akan dibuat. Apa maksudnya? So what disini nilai yang ingin disampaikan kepada pembaca. 
Dalam seminarnya, Bang Tere memberi contoh dalam novel Hafalan Sholat Delisa. Yang ingin disampaikan disana adalah tentang kemunafikan. Bagaimana ketika Delisa mau menghafal karena dibelikan kalung, mau melakukan sesuatu karena coklat. Intinya dengan melakukan kebaikan namun bukan karena ketulusan, tapi karena adanya hal lain yang akan menggantikan apa yang dilakukan. Kamu bisa melakukannya dengan cara lain, yang penting sesuai dengan gaya penulisan yang ingin dilakukan.

Berikutnya memutuskan hal-hal penting dalam tulisan, seperti karakter, plot, alur, panggung cerita, setting, dan lainnya. Inilah yang akan menjadi penentu tulisan kamu apakah akan hidup atau tidak. Bagaimana kamu menggunakan semuanya menjadi sebuah tulisan yang menarik. Jika dalam non-fiksi kamu tentukan apa-apa saja yang ingin disampaikan, bagaimana cara-cara ini mampu menggugah pembaca dan bisa menjadikan tulisan yang akan menarik pembaca.

Riset. Untuk yang satu ini semua penulis menggunakannya. Mengetahui detail bahan tulisan akan menjadikan tulisan kita lebih berat dan berisi, tidak hanya menjadi tulisan yang sekedarnya. Bentuk menuliskan novel tentang luar negeri, kita harus melakukan riset tentang negara itu, kota-kotanya, bagaimana suasana disana, orang-orangnya adat dan budaya, secara detail. Sehingga apa yang kita tuliskan tidak berasal dari pemikiran kita saja yang mengandalkan imajinasi dan bayang-bayang.

Jangan pernah lupakan membaca. Ingat, kita menulis untuk akhirnya dibaca, baik itu diri sendiri ataupun orang lain. Maka dari itu jika ingin mengetahui bagaimana tulisan-tulisan penulis dan terkenal, jangan lupa banyak baca buku mereka. Selain itu membaca juga meningkatkan pikiran dan bahan kita untuk menulis.
Dan saatnya memulai menulis...

2. DRAFTING

Nah ketika memulai menulis ini kamu tidak perlu banyak memikirkan apapun. Ya jangan berpikir, tapi menulis. Susahnya kita jika sebagai penulis pemula adalah terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan bagaimana tulisan kita. Maka dari itu, yang terpenting adalah menulis. Tuliskan saja apa yang ada di pikiran kita tanpa perlu melirik tulisan kita sudah benar atau belum. Hal itu akan ada bagiannya sendiri.
Jika menulis sudah menjadi jiwa dalam hidup kita dan pembaca juga sudah banyak, barulah kita mulai memikirkan secara detail bagaimana mengolah tulisan yang benar-benar rinci. Kita sebagai penulis pemula sering kali sibuk menulis sambil mengedit, sehingga membuat tulisan kita tidak pernah selesai. Alhasil kita menyerah dan tidak melanjutkan tulisan.

Cara terbaik adalah tulis semuanya sampai selesai. Tulis, tulis, dan tulis ketika selesai barulah kita memperbaikinya.

3. REVISING
Untuk melakukan revising kita perlu menyelesaikan tulisan kita diawal, atau tadi drafting yang dibahas sebelumnya. Jika kamu tidak bisa menyelesaikan tahap drafting, tentunya tidak mungkin bisa masuk ke tahap revising.

Oke, berarti selesaikan draft naskahmu dulu ya...
Sip, kalau sudah selesai saatnya kita ke tahap revising.

Pada bagian ini yang kamu lakukan sangat sederhana. Setelah naskah kamu tulis, kamu lihat lagi dari awal. Perhatikan isi naskah alur, bisa jadi ada yang ingin di ganti, dikurang atau ditambahkan. Ketika melakukan revising ini, inilah waktunya kamu memperbaiki naskah. Bahkan jika sudah dicetak dalam bentuk buku, ketika kamu ingin cetak ulang, bisa jadi ada revisi yang ingin dilakukan. Menambah testimoni, memperbanyak isi, atau ada yang dikurangi. Tapi INGAT poin terpentingnya kamu harus menyelesaikan naskah terlebih dahulu, oke. Jangan lupa menulis.

4. EDITING
Pada bagian ini, kita bisa saja menyerahkannya pada editor. Baik itu editor penerbit, ataupun editor lepas. Tapi tidak ada salahnya kamu sebagai penulis, memeriksa tulisan sendiri dan mengeditnya. Mungkin ada bagian-bagian yang ingin kamu ubah atau sesuaikan sendiri, sehingga jika editor tidak memahaminya tidak menjadi masalah karena sudah di edit sebelumnya.
Yang terpenting tetap menulis, dan jangan lupa menulis naskahmu ya...

5. PUBLISHING
Huh, akhirnya akan terbit juga. Naskahmu sudah bagus dan sudah melewati semua proses diatas saatnya naskahmu harus terbit dan dibaca orang banyak. Secara ringkas kita akan membagi dua jenis penerbit  disini.

Pertama penerbit mayor/konvensional. Pada penerbit ini proses yang harus kita lakukan cukup lama. Kita harus menyiapkan naskah kita yang sudah jadi untuk dikirim, beberapa penerbit mayor meminta sinopsisnya atau bab 1nya dulu. Lalu kita harus bersabar menunggu, yang paling cepat jika naskah kita bagus bisa satu minggu direspon dan diterima, atau jika ternyata kurang cocok di penerbit bisa sampai tiga bulan bahkan tidak ada kabar sama sekali. Kamu bisa belajar untuk mengetahui apakah penerbitnya sudah cocok dengan naskahmu, atau ada syarat yang belum dipenuhi.  Jika kamu sebagai penulis pemula jangan mudah menyerah.
Beberapa penulis terkenal dulunya ada yang pernah ditolak sampai 17 kali oleh penerbit yang sekarang penerbit yang berlomba-lomba mencari mereka. Jika memang ingin menjadi penulis yang hebat, harus terus bersabar dan pantang menyerah, yang penting tetap terus menulis.
Yang kedua, self publishing/penerbit indie. Dalam penerbit ini lebih mudah prosesnya daripada penerbit konvensional. Jika kamu sudah siap naskah utuh, tinggal ajukan ke penerbit indie pesan berapa buku yang mau dicetak dan tinggal kamu bayar harga cetak bukunya. Bedanya dalam penerbit ini kita yang melakukan semua dari design cover, editing, dan layout, atau membayar jasa yang menyediakan hal tersebut. Namun ada juga penerbit indie yang langsung menawarkan samua itu dalam satu paket tanpa perlu repot mengurusinya, salah satunya Penerbit El-Markazi.

Jika bertanya mana yang lebih baik, semuanya baik. Karena tulisan bukan ditentukan oleh penerbitnya tapi bagaimana penulis dan bukunya sendiri mampu menjadi bacaan yang baik untuk orang lain.

6. MARKETING
Nah ini hal terakhir yang perlu dilakukan agar bukumu bisa tersebar dan dibaca banyak orang. Marketing atau pemasaran ini bisa dilakukan sendiri atau melalui orang lain. Jika melalu penerbit mayor atau konvensional, mereka biasanya akan mendistribusikannya ke toko buku, jadi secara tidak langsung tanpa perlu bersusah payah buku kamu sudah tersebar. Berbeda dengan buku yang dicetak dan diterbitkan sendiri, kita harus lebih gencar untuk menawarkan dan menunjukkan buku kita kepada para pembaca.

Terlepas dari itu semua sebagai seorang penulis tentunya kita harus bangga dengan buku kita sendiri. Dimanapun penerbitnya, tetap saja kita harus memasarkan buku kita, memberitahukannya kepada orang lain. Kamu bisa membagikannya lewat Media sosial, facebook, line, bbm, whatsapp, twitter, blog, atau dibuatkan dalam bentuk Aplikasi Android yang disediakan oleh Penerbit El-Markazi. Atau datang ke acara-acara bazar, organisasi, seminar, menawarkan bukumu disana agar orang lain mengetahuinya.


Nah itulah kurang lebih hal-hal yang dilakukan oleh penulis-penulis terkenal. Jika ingin menjadi seperti mereka ikuti jejak merekan dan ikuti prosesnya. Jangan lupa menulis dan bergabung dengan teman-teman penulis se-indonesia salah satunya komunitas baru yang produktif FRAME (Forum Rafflesia Menulis).



----------------------------------------------------

Dapatkan artikel terbaru kami
Dengan masukkan nama dan email Anda di bawah ini




Silahkan di SHARE Jika Bermanfaat

1 comment:

  1. artikel yang menarik kalau saya lebih suka menulis secara abstrak sembarang nanti baru di edit untuk membetulkan kesalahan penulisan artikel di blog saya

    ya bagian editing itu juga susah soalnya agak butuh lama untuk mengoreksi kesalahan dari tulisan yang di buat

    gan saya minat untuk jadi partner blognya agan

    sekalian nitip link
    http://penulizh.generasi.net/

    ReplyDelete

Catagories

SEARCH