DAPATKAN ARTIKEL TERBARU

Recent Post

Friday, June 16, 2017


Siapa yang tidak mengenal Asma Nadia? Ya, puluhan karyanya seringkali kita saksikan menghiasi toko-toko buku. Ia termasuk penulis senior yang sukses. 

Walau begitu, ia tidak segan-segan berbagi ilmunya kepada kita. Saya mengutip dari berbagai sumber tentang beberapa motivasi atau tips menulis yang pernah disampaikan oleh Asma Nadia. 

Harapannya setelah membaca ini, kita pun mampu menulis juga layaknya Asma Nadia. Aamiiiin.
Adapun beberapa poin yang saya dapatkan untuk sukses menulis antara lain sebagai berikut.


 1.      Motivasi
Hal pertama yang harus kita tanamkan adalah motivasi. Dengan hadirnya motivasi, maka menulis menjadi semangat. Semangat itulah yang membuat kita terus menulis hingga selesai. Motivasi ini sebenarnya datang dari dalam diri sendiri. 

Baca juga: Rahasia Menyajikan Tokoh dan Penokohan Dalam Novel agar dibosan dibaca

Diri sendirilah sang Motivator terbaik, terutama dalam hal menulis. Adapun seminar atau training motivasi yang diadakan orang atau institusi lain merupakan pemacu atau penggerak motivasi yang ada dalam diri sendiri.
        
        2.     Semangat
Menulis ketika dalam keadaan semangat akan menghasilkan tulisan yang baik. Oleh karena itu, tumbuhkan semangat yang ada dalam diri kita. 

Untuk menumbuhkan semangat, mindset-kan dalam diri kita bahwa menulis adalah hiburan, bukan kewajiban. Walaupun pada hakikatnya, ketika kita ingin menjadi penulis, maka menulis merupakan sebuah keharusan. Dengan begitu, menulis akan terasa nikmat dan menyenangkan. Tidak penuh tekanan.

        3.     Konsisten
Ketika kita ingin menjadi penulis, kita harus konsisten dalam menulis. Teruslah menulis tanpa henti. Buatlah waktu khusus untuk menulis. Menulislah pada waktu khusus yang sudah kita buat. Hindari menulis hanya sekadar untuk mengisi waktu kosong atau lebih parahnya menulis diwaktu yang tersisa.  

Ingin menjadi penulis? Teruslah menulis. Jangan berhenti ketika kita masih bisa menulis.
Baca Juga : Mengungkap Rahasia Dibalik Proposal Penawaran Naskah 

        4.    Solusi Ketika Buntu
Tidak jarang terjadi saat menulis kita menemui jalan buntu. Bagaimana solusinya? Asma Nadia memberikan tipsnya, yaitu bersandar kepada Allah SWT. Alasannya? Ketika datang kesulitan, maka sesungguhnya Allah SWT juga menyertakan solusi atau kemudahannya.

Demikian tips singkat menulis ala Asma Nadia yang kami dapatkan dari berbagai sumber.

Namun rasanya kurang enak Kalo belajar tidak langsung dengan orangnya. Kabar baiknya untuk Kamu yang benar-benar mau belajar nulis sama Asma Nadia, beliau lagi membuka Kelas Novel Online. Enaknya karena kelas ini Online jadi dimana pun Kamu bisa mengikuti Kelas Novel ini.

Biasanya kalo belajar sama Orang yang sudah Expert + Jago Banget pasti mahal ya bayarnya?
Kata siapa mahal? Kabar Baiknya biayanya cuma 399.000 dan ada Diskon Besar. Kalo kamu daftar sampe tanggal 16 Juni 2017, kamu cukup Investasi 199.000.
Daftar tanggal 17 Juni - 04 Juli 2017 Biayanya 299.000 setelah itu investasinya menjadi Normal 399.000.

Kelas ini Jarang sekali diadakan dan kami tidak tau apakah ada lagi selajutnya, jadi saran kami sekali ada Kesempatan sekarang Manfaatkan dan segera daftar di bit.ly/Kelas-Novel sekarang juga, kapan lagi bisa belajar langsung dengan Asma Nadia. 


Semoga bermanfaat dan selamat menulis. Sukses selalu, ya... J

----------------------------------------------------

Dapatkan artikel terbaru kami
Dengan masukkan nama dan email Anda di bawah ini




BERMANFAAT? Boleh SHARE Klik Di Bawah Ini

0

Tuesday, June 13, 2017


Tokoh merupakan salah satu yang mutlak (harus) ada dalam sebuah cerita. Kehadiran tokoh membuat cerita menjadi hidup. Cerita tanpa tokoh, maka cerita akan “mati”. Ya, tokoh adalah unsur sangat penting dalam cerita. Tokoh bisa diartikan sebagai yang bermain peran atau memerankan peran tertentu dalam cerita.

Pada judul tulisan ini saya menulis tokoh dan penokohan. Samakah antara keduanya? Ya, sama. Karena keduanya sama-sama penghidup suasana. Lalu, untuk apa ditulis dua-duanya kalau memang sama? bukankah lebih aktif ditulis satu saja? Tidak ada kejadian yang tanpa sebab. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang sia-sia. Ada alasan di balik semuanya. Atau dengan kata lain, hukum sebab-akibat berlaku di sini. Ups, tapi kita tidak akan membahas hukum sebab-akibat. Kita akan membahas tokoh dan penokohan.

Setelah mengetahui tokoh, ada baiknya sedikit kita membahas penokohan. Jika tokoh adalah yang berperan (orang yang memerankan peran tertentu), sedangkan penokohan adalah watak atau kepribadian masing-masing tokoh. Penulis bisa melakukan berbagai cara untuk menggambarkan watak masing-masing tokohnya.


Baca juga : Tips dan Trik Agar Tulisan Asyik Dibaca Berulang-ulang
Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyajikan tokoh dan penokohan. Berikut pemaparannya secara ringkas.
   
    1.      Sertakan tokoh sekadarnya saja. 
   Dalam membuat cerita, kita harus menyajikan tokoh secukupnya saja. Tidak perlu menyertakan tokoh yang terlalu banyak. Tokoh-tokoh yang disajikan dalam cerita adalah tokoh-tokoh yang diperlukan dalam menghidupkan alur cerita. Tokoh utama atau tokoh figuran sama saja. Mereka adalah yang dibutuhkan. Ketika kita menyertakan tokoh yang terlalu banyak dan tidak penting, maka justru akan membingungkan kita sendiri dalam menokohkan atau mengarakterkan tokoh-tokohnya. Selain itu, pembaca juga akan kebingungan mengikuti alur yang kita ceritakan karena tokohnya terlalu banyak.

    2.      Konsistensi penokohan. 
   Ketika membuat cerita, kita harus menyajikan tokoh dengan karakter yang konsisten. Ketika kita sudah menentukan watak tokoh tertentu, maka saat itulah kita berupaya sekuat mungkin untuk memertahankan karakter tokoh di balik gempuran-gempuran konflik dalam alur yang kita ciptakan. Sangat tidak diperkenankan menyajikan penokohan atau karakter tokoh yang tidak konsisten.

    3.      Hindari masuknya karakter kita masuk ke dalam tokoh. 
   Setiap penulis memiliki kepribadian atau karakter tertentu. Ya, karena kita manusia. Hehe. Setiap manusia memiliki karakter. Namun, dalam menulis kita harus mencegah masuknya karakter kita ke dalam tokoh dalam cerita. Buatlah karakter tokoh seberbeda mungkin dengan karakter kita. Sajikan karakter khusus pada masing-masing tokohnya.

   Baca Juga : Bagaimana Membuat dan Mengelola Konflik Agar Naskah Menjadi Menarik

    4.      Bijak menamai tokoh. 
    Mungkin hal ini terkesan sepele. Apalah arti sebuah nama dalam cerita? Ia kan hanya pelengkap alias pemanis cerita saja. Adakah yang bertanya begitu? Nama itu penting. Sangat penting. Dalam memberi nama tokoh kita harus bijak. Jangan asal memberi nama. 
   
   Pada contoh ringan, misalnya kita mengangkat cerita dengan latar dan tokoh orang Rusia, maka kita harus tahu karakter nama (nama yang khas di suatu wilayah atau negara) orang-orang Rusia. Karena ketika kita menggunakan nama Cina untuk orang Rusia, maka tidak cocok dan terkesan “ngawur”. Walau bertetangga negara Cina dan Rusia memiliki karakter nama yang berbeda. 

   Zheng Chang, Wu Lei, dan Shang Min merupakan contoh nama-nama orang Cina. Aleksandr Kuzmanov, Vladimir Galiyulin, dan Viktor Eremenko merupakan contoh nama-nama orang Rusia. Jauh berbeda, kan? Jadi, hati-hati dalam menamai tokoh. Pastikan nama tokoh yang kita sajikan cocok dengan keadaan yang kita angkat.

    5.      Membedakan nama tokoh laki-laki dan perempuan. 
   Sebagai penulis kita harus mampu dan menyajikan nama tokoh yang sesuai dengan jenis kelaminnya. Ketika menyajikan tokoh laki-laki, maka kita harus menggunakan nama laki-laki. Andi, Alex, Budi, Doni, dan Zaki merupakan contoh nama laki-laki orang Indonesia. Lisa, Novi, Rena, Eli, dan Silvia merupakan contoh nama perempuan orang Indonesia. 
  
  Hindari atau minimalisasi penggunaan nama tokoh yang bisa digunakan keduanya atau nama laki-laki yang disematkan pada perempuan dan sebaliknya, nama perempuan yang disematkan pada laki-laki.


    6.      Pastikan nama-nama tokohnya berbeda satu dengan yang lain. 
   Mengapa demikian? Karena untuk memudahkan kita dalam membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Meminimalisasi penggunaan nama tokoh yang mirip justru akan menyulitkan kita dalam menyajikan karakter masing-masing. Selain itu, nama tokoh yang mirip justru membingungkan. Ketika kita dan teman kita memiliki nama panggilan yang sama dan saat itu ada orang yang memanggil, maka kita pun bingung mana yang dipanggil.

   Baca juga: Mengungkap Rahasia yang Terdapat di Dalam Proposal Penawaran Naskah

    7.      Berikan nama tokoh seperlunya saja. 
   Cerita yang melibatkan tokoh yang banyak tidak perlu semuanya dinamai. Misalnya, penonton sepakbola di sebuah stadion yang berjumlah ratusan. Tidak perlu menamainya semua. Cukup dengan para penonton yang memenuhi tribun stadion saja. Jadi, nama itu diberikan kepada tokoh-tokoh yang berperan penting dalam cerita. Bukan semua tokoh.


Demikian beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyajikan tokoh dan penokohan dalam cerita. Sebenarnya jika ingin belajar cara membuat karakter tokoh yang keren dan hidup tentu kita tahu siapa jagonya, iya tentu Asma Nadia jagonya. 

Nah.. kabar gembiranya Asma Nadia lagi buka Kelas Novel Online. Mungkin ini Kelas yang Anda tunggu-tunggu selama ini. Silahkan cek dulu materi yang akan Anda dapatkan. Jika itu yang Anda cari saran kami segera daftar, karena kita tidak tahu kapan Asma Nadia bisa meluangkan waktunya lagi untuk berbagi ke kita.

Semoga bermanfaat.

----------------------------------------------------

Dapatkan artikel terbaru kami
Dengan masukkan nama dan email Anda di bawah ini



BERMANFAAT? Boleh SHARE Klik Di Bawah Ini

0

Monday, May 1, 2017


Apa yang akan Anda lakukan ketika telah menyelesaikan naskah

Sebuah pertanyaan klasik yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban. 
Ya, jawabannya sudah jelas. Tulisan itu ditulis untuk dibaca. 

Jadi, ketika Anda menulis naskah berarti Anda ingin naskah Anda dibaca orang. 
Benar, kan? Intinya ketika naskah selesai, maka penulis yang “sehat akalnya” akan mencoba mempublikasikan naskahnya. Untuk apa coba kalau harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk menulis naskah dan ketika naskah selesai, tetapi hanya di diamkan saja?



Lalu, pertanyaannya bagaimana cara mempublikasikan naskah? Caranya mudah. Salah satu caranya adalah dengan menawarkan naskah Anda ke penerbit. Untuk bisa menawarkan naskah Anda, hal utama yang harus Anda lakukan adalah membuat menawarkan naskah ke penerbit atau dalam bahasa lain “membuat proposal penawaran naskah”.

Baca juga : Cara Agar Naskah kita Pantas Di Terbitkan

Apa saja yang harus dicantumkan dalam proposal penawaran naskah itu? Simak tulisan ini hingga selesai, ya...
  
  1.   Identias diri. Tidak ada buku yang tidak ada penulisnya. Anda harus menjelaskan dulu identitas diri Anda sebelum menawarkan naskah. Pastikan identitas itu memberi informasi yang jelas kepada penerbit tentang diri Anda.

  2.   Alamat lengkap. Cantumkan alamat lengkap, termasuk kontak, yang memudahkan penerbit untuk menghubungi Anda. Tulis alamat-alamat seperti e-mail, nomor HP aktif, dan lain sebagainya dengan selengkap-lengkapnya. Penerbit bisa memilih salah satu jalan untuk menghubungi Anda.
    
    3.   Riwayat kepenulisan. Bagian ini berisi tentang karya apa saja yang telah Andaterbitkan. Bisa di media cetak atau dalam bentuk buku. Dianjurkan bagi Anda untuk menuliskan karya-karya yang berhubungan dengan naskah yang hendak Anda tawarkan. 
   Misalnya, ketika Anda menawarkan karya berbentuk novel, maka Anda bisa menuliskan novel-novel yang pernah Anda terbitkan. Bagaimana dengan novel yang satu genre? Itu lebih baik.
   
   4.   Tawaran judul. Anda menyajikan judul yang Anda tulis, tetapi Anda juga menyajikan tempat untuk penerbit jika terjadi kemungkinan ada rekomendasi judul lain dari penerbit. Penerbit merekomendasikan judul biasanya karena mempertimbangkan pasar.

Baca juga : Sikap yang harus di tanamkan dalam diri seorang penulis
     
  5.   Daftar isi atau calon daftar isi. Buatlah daftar isi dan kalau bisa mencantumkan perkiraan banyaknya halaman naskah jadi yang akan Anda tulis. Anda bisa membuat judul dalam daftar isi beserta perkiraan halamannya.

   6.   Sinopsis. Sinopsis adalah paragraf-paragraf yang menggambarkan keseluruhan isi buku Anda. Sinopsis ini sangat penting karena penerbit bisa mengerti isi buku dan membayangkan prospek dan pihak marketing akan tahu sasaran pemasaran naskah tersebut. Dengan sinopsis ini penerbit juga akan mudah untuk menentukan naskah itu diterima atau ditolak tanpa memerlukan waktu yang lama.

   7.   Sasaran tembak. Penyajian sasaran pembaca pada naskah Anda sangat penting untuk memudahkan bagian marketing penerbitan menganalisis pasar. Dengan begitu, naskah Anda dapat difokuskan kepada kategori tertentu.

   8.   Buku-buku sejenis. Penulis diharapkan untuk tidak ragu dalam mencantumkan buku-buku yang sejenis. Namun, Anda harus menyebutkan juga kelebihan dan yang membedakan naskah Anda dengan buku-buku sejenis. Anda juga harus mampu meyakinkan mereka dengan kalimat yang tegas.

    9.   Tawaran bantuan penjualan. Ketika menjadi penulis, sebenarnya posisi Anda tidak hanya penulis saja. Namun, Anda juga sebagai “penjual” yang mempromosikan barang Anda. Anda bisa menyertakan rencana promosi dan penjualan yang mungkin bisa Anda bantu ketika naskah Anda mendapatkan acc dan diterbitkan. Anda bisa menuliskan cara peluncuran buku yang Anda rancang di kampus, berapa banyak buku yang bisa Anda bantu jual, dan strategi pemasaran (promosi) dalam blog Anda. Poin ini sebenarnya sering dilupakan penulis ketika menawarkan naskah-naskahnya.

Baca juga : Berani menjadi penulis sukses, lakukan 8 tantangan ini
   
    10. Tambahan. Anda bisa menambahkan dalam proposal penawaran Anda dengan contoh sampul buku, testimoni dari tokoh-tokoh terkenal, atau surat pernyataan akan keaslian naskah Anda yang menyatakan bahwa itu benar-benar naskah yang Anda tulis. Ini bisa menjadi bahan penguat kemungkinan diterbitkannya naskah Anda.

Demikian sepuluh rahasia yang terdapat dalam proposal penawaran naskah. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba mengaplikasikan ilmunya.

----------------------------------------------------

Dapatkan artikel terbaru kami
Dengan masukkan nama dan email Anda di bawah ini




BERMANFAAT? Boleh SHARE Klik Di Bawah Ini

0

Friday, February 17, 2017


Saat ini kita mengenal seorang penulis adalah orang yang idealis. Idealisme kita akan muncul dalam tulisan. Ada sebuah kalimat ringkas mengenai hal ini, “Kepribadian penulis tercermin dalam tulisannya.” 

Pendapat itu sah-sah saja. Karena kebanyakan, walau tidak semua, penulis merasa nyaman pada jenis tulisan tertentu. Gaya bahasa dan jenis pembahasannya bisa jadi merupakan cermin dari kehidupan atau kepribadian penulis. 



Pada penulis novel misalnya, kita bisa melihat penulis-penulis besar seperti Habiburrahman El Shirazy, Andrea Hirata, dan masih banyak lagi. Mereka memiliki genre masing-masing. Habiburrahman El Shirazy dengan latar belakang pendidikan Islam-nya senantiasa menyajikan novel-novel Islami. Sebut saja Ayat-ayat Cinta, Cinta Suci Zahrana, Dalam Mihrab Cinta, dan lain sebagainya. 

Andrea Hirata dengan latar belakang kehidupan di Belitong (Provinsi Bangka Belitung) menyajikan novel-novel kehidupan sosial, baik anak-anak maupun dewasa. Sebelas Patriot, Laskar Pelangi, Maryamah Karpov, dan lain sebagainya. 
 Baca juga : Cara Agar Naskah Kita Pantas Di Terbitkan
Adapun Tere Liye dan Asma Nadia merupakan penulis novel yang tidak terlalu mengusung satu genre novel. Tere Liye sendiri sudah menerbitkan lebih dari lima genre novel, yaitu anak-anak dan keluarga, fantasi, romantis, sejarah, aksi, dan fiksi sains. 

Dalam seminar yang digelar oleh Hima Bahtra FKIP KBM Universitas Bengkulu Minggu (1 Mei 2016) lalu Tere Liye mengumbar rencana menerbitkan novel bergenre horor. Penasaran? Kita tunggu saja. Lalu, apakah Tere Liye termasuk tidak memiliki karakter pribadi? Jelas memiliki. Perhatikan gaya bahasanya, maka sudah dapat dibaca sedikit karakternya.

Dari penjelasan di atas tampak bahwa penulis memiliki kepribadian masing-masing. Walau begitu, ada beberapa hal yang harus kita tanamkan dalam diri kita masing-masing untuk membentuk karakter kita sebagai penulis yang baik. Beberapa hal itu adalah sikap yang harus ditanamkan dalam diri kita sebagai penulis.
    
    1.    Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kita harus paham kaidah atau tata bahasa bahasa Indonesia ketika kita ingin menggunakan bahasa Indonesia dalam tulisan kita. 

    Jikalau pun menggunakan istilah-istilah atau tata bahasa yang tidak baku, maka kita perlu menggarisbawahi atau mencetak miring (italic). Paling sering kita jumpai adalah dicetak miring. Jika kosakata itu jarang terdengar atau kemungkinan besar tidak diketahui oleh sebagian besar pembaca, maka kita harus menyajikan arti atau maksudnya pada catatan kaki atau glosarium.


    
     2.    Bermental baja. Kita sebagai penulis harus memiliki mental yang kuat. Mental yang kuat dalam menjalani profesinya sebagai penulis, yaitu menulis. Juga mental yang kuat dalam menghadapi kemungkinan terjadinya penolakan oleh pihak penerbit. 
     


          Biasanya mental penulis, terutama penulis pemula, akan down saat menghadapi kenyataan tulisannya ditolak penerbit alias dinyatakan tidak diterbitkan. Jika ingin menjadi penulis yang hebat, maka langkah kita harus hebat. 
    
    Sangat tidak diperkanankan ketika baru sekali mencoba menerbitkan dan ditolak lalu tidak menulis lagi. Teruslah menulis. Teruslah belajar untuk menulis sebaik-baiknya. Semakin kita menulis dan belajar, maka semakin baik tulisan kita. Ingin menjadi penulis, kan? Kuatkan mental untuk terus belajar dan berkarya.
   
    3.    Terus menulis. Tidak ada pilihan bagi penulis selain terus menulis. Jika tidak menulis berarti bukan penulis. Bagaimana ketika kita sudah berhasil menerbitkan satu buku? Saya tanya balik, satu buku? Penulis buku sebesar dan setenar Asma Nadia, Habiburrahman El Shirazy, Tere Liye, Dee Lestari, Andrea Hirata, dan penulis-penulis lain sudah berapa buku yang mereka terbitkan? Satukah? Tidak. 

     Bahkan ada yang sampai atau lebih dari angka sepuluh. Intinya adalah mereka tidak berhenti menulis. Mereka terus menulis, walau sudah berhasil menerbitkan banyak buku. Jangan cepat puas dengan telah berhasil menerbitkan hanya satu buku. Ketika satu buku telah terbit, maka berusahalah untuk menerbitkan dua buku. Ketika dua buku telah terbit, maka berusahalah untuk menerbitkan tiga buku. Dan seterusnya. Menulislah sampai akhir hayat. Teruslah menulis saat kemampuan menulis masih berada dalam diri kita.
    
    4.    Memiliki kepekaan yang tinggi. Penulis harus memiliki kepekaan hati. Setiap kejadian atau yang dilihatnya bisa dijadikan inspirasi munculnya ide pada diri penulis. Kita mengetahui bahwa ide merupakan pondasi dalam tulisan. 

    Tanpa adanya ide, maka tulisan tidak akan terwujud. Kalaupun terwujud, maka wujudnya pun tidak akan maksimal alias amburadul. Ya, menulis tanpa ide laksana melepaskan kapal di tengah lautan tanpa nahkoda. Oleh karena itu, kepekaan harus dimiliki oleh penulis. Semakin tinggi kepekaan penulis, maka semakin banyak ide yang dihasilkan sehingga berpengaruh pada banyaknya tulisannya.
     
  Baca juga: Cara Mengasah Kreatifitas Dalam Penulis
    
     5.    Memotivasi diri. Penulis memerlukan motivasi. Penulis harus mampu memotivasi diri. Ia harus memiliki alasan kuat terhadap pertanyaan ini, mengapa menulis? Pertanyaan yang simpel yang banyak orang yang bercita-cita menjadi penulis gagal menjawabnya dengan maksimal. 

   Dalam diri kita harus tertanam motivasi kuat atau alasan yang menguatkan kita menjadi penulis. Amalan itu tergantung niatnya. Maka, ketika memutuskan menjadi penulis, maka kita harus meluruskan niat kita. Menulis adalah berbagi melalui tulisan. Oleh karena itu, niatkan menulis untuk berbagi, terutama berbagi kebaikan. 

     Karena ketika ada orang lain yang berubah atau melakukan kebaikan setelah membaca buku kita, maka kita akan mendapatkan pahalanya (amal jariyah). Bagaimana jika orang itu mengamalkan kepada orang lain dan terus diajarkan kepada orang lain hingga banyak yang berbuat kebaikan? Jadi, tetaplah menjadi penulis yang senantiasa berbagi kebaikan. J

Demikian beberapa sikap yang harus ditanamkan dalam diri penulis. Sangat mudah, kan? Selamat mencoba.

SERIUS MAU jadi penulis? Terbukti..!!! Mereka yang mempraktekkan materi di bawah ini sudah menerbitkan Buku sendiri.. Klik Gambar Di bawah ini!

 KLIK GAMBAR

----------------------------------------------------

Dapatkan artikel terbaru kami
Dengan masukkan nama dan email Anda di bawah ini




BERMANFAAT? Boleh SHARE Klik Di Bawah Ini

4

Tuesday, January 24, 2017


Saya pernah membaca sebuah tulisan sekaligus mendengar sebuah pernyataan yang lebih kurang seperti ini. Sebelum melamar perempuan, kita dianjurkan untuk memantaskan diri terlebih dahulu. 

Ya, karena jodoh itu ibarat cermin diri. Jika diri kita baik, maka kita akan berjodoh dengan orang baik. Dan jika diri kita tidak baik, maka bisa dipastikan jodoh kita juga tidak baik. Siapa sih yang tidak ingin berjodoh dengan yang terbaik. 

Oleh karena itu, kita harus memantaskan diri bertemu dengan orang yang terbaik itu dengan terus dan terus memperbaiki diri. Ups, saya tidak mengajak untuk membahas jodoh. Namun, saya ingin mengajak kita semua untuk memantaskan diri naskah untuk diterbitkan. Maksudnya, apa saja yang harus kita lakukan supaya naskah kita layak untuk diterbitkan? Yuk, simak tulisan ini sampai akhir...
    


     1.      Sesuaikan momen. 
            Kita harus mampu memprediksi pembicaraan yang hangat setengah tahun setelah kita mengirimkan naskah kita mengingat koreksi naskah berkisar tiga sampai enam bulan. Ketika naskah kita sejalan dengan pembicaraan pada saat diterbitkan, maka kemungkinan naskah diterima akan semakin besar. Misalnya, ketika enam bulan lagi akan ada Pemilu, maka kita bisa menuliskan naskah yang berbicara seputar politik.

      2.      Lakukan observasi. 
          Sebelum menentukan tema yang diangkat menjadi tulisan, kita harus melakukan observasi terlebih dahulu. Untuk apa? Penerbit biasanya enggan menerbitkan naskah yang sudah pernah diterbitkan. Misalnya, kita hendak menuliskan nama-nama anak dalam bahasa Arab beserta artinya, padahal penerbit sudah pernah menerbitkan buku tentang itu. Maka, kemungkinan besar naskah kita ditolak. Buatlah naskah yang berbeda. Jikalaupun mirip, misalnya tentang hal-hal beraroma romantis, kita bisa membuat hal istimewa tentang romantis yang belum pernah dibahas di buku-buku sebelumnya.


      3.      Pahami kriteria penerbit. 
                  Setiap penerbit pasti menentukan kriteria naskah yang akan diterbitkan. Misalnya, diketik dengan font Times New Roman ukuran 12 spasi 1,5, berjumlah minimal 200 halaman A4. Saat itu kita harus mengondisikan naskah kita memenuhi kriteria itu. Tidak diperkenankan menyalahi salah satunya seperti diketik dengan font yang lain atau halamannya 199 (kurang dari angka minimal, 200 halaman). Kepatuhan penulis dalam pemenuhan kriteria penerbit merupakan cermin dari keseriusan penulis dalam menerbitkan naskahnya.

      4.      Kondisikan jadwal penerbit. 
           Penerbit memiliki jadwal dalam menerbitkan. Kita harus lihai dalam mengondisikan kapan naskah kita harus dikirimkan. Jangan sampai kita mengirimkan naskah ketika jadwal penerbitan sudah penuh. Akibatnya naskah kita akan ditolak alias tidak diterbitkan.

      5.      Awas ghost writer! 
            Fenomena ghost writer merupakan hal yang marak dalam dunia kepenulisan. Ghost writer adalah orang yang mampu menghasilkan naskah sesuai dengan target, sesuai jumlah halaman, sesuai kualitas, dan sesuai jadwal penerbitan. Ada beberapa penerbit yang memiliki ghost writer. Sebagai penulis kita dituntut mampu bersaing dengan mereka, jika ingin menerbitkan di penerbit yang memiliki ghost writer.

     6.      Pastikan tepat sasaran. 
           Sebagai penulis kita harus jeli dalam menentukan penerbit. Ketika kita memiliki naskah fiksi, maka kita harus mengupayakan atau mencari penerbit yang biasa menerbitkan naskah fiksi sesuai dengan genre fiksi kita. Sebaliknya, jika kita memiliki naskah nonfiksi, maka kita harus mencari penerbit yang biasa menerbitkan naskah nonfiksi sesuai dengan genre nonfiksi yang kita tulis. Jangan sampai salah masuk. Kesalahan memasukkan naskah bisa berakibat fatal, yaitu naskah ditolak. Misalnya, naskah fiksi dikirim ke penerbit nonfiksi. Sudah jelas tidak nyambung.



      7.      Mengenalkan diri. 
            Biasanya penerbit lebih suka menerbitkan naskah dari orang-orang terkenal. Hal itu terjadi karena alasan pasar. Ya, orang-orang terkenal semisal artis bisa dipastikan tulisannya akan digandrungi orang yang nge-fans dengannya. Lalu, bagaimana solusinya sedangkan kita bukan siapa-siapa? 
        Solusinya adalah menjadikan diri kita siapa-siapa. Hehe. Misalnya, ketika kita sudah pernah menerbitkan minimal sebuah karya atau ketika kita aktif dalam sebuah perkumpulan, komunitas, atau organisasi besar, maka penerbit akan menilai kita sebagai orang yang dikenal. Artinya, kita memiliki pasar (kalau dalam bahasanya penerbit). 
         Jadi, kita harus menjadi tokoh atau orang yang dikenal banyak orang dalam hal kebaikan. Misalnya dengan aktif di komunitas, lembaga, atau organisasi besar, sudah pernah menerbitkan buku (yang artinya orang sudah mengenal kita sebagai penulis), dan lain sebagainya.

      8.      Kondisikan tulisan. 
            Kita sebagai penulis harus jeli dan lihai dalam mengondisikan tulisan. Kalimat, huruf, dan segenap unsur fisik tulisan harus benar-benar diperhatikan. Jangan sampai membingungkan editor. Jika editor sudah bingung, maka kemungkinan besar naskah akan ditolak. Jadi, buatlah naskah sebaik-baiknya.

      9.      Sabar. 
               Penulis adalah orang yang sabar. Ia bersabar menanti sebuah jawaban dari editor. Ketika editor meminta menyatakan akan mengumumkan naskahnya tiga bulan kemudian, maka kita tidak perlu menghubungi editor selama tiga bulan ke depan. ketika telah lewat tiga bulan, baru kita boleh menghubungi jika naskah kita belum diumumkan juga. Jangan menanyakan naskah kita sebelum waktu yang telah ditentukan, karena bisa jadi membuat kesal editor dan akhirnya naskah kita ditolak, sebagus apapun naskah itu.


Sudah pantaskah naskah kita untuk diterbitkan? Sudah pantaskah kita menyandang sebagai penulis? Kalau belum, sembilan tips di atas bisa kita lakukan. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba mengaplikasikan ilmunya.

----------------------------------------------------

Dapatkan artikel terbaru kami
Dengan masukkan nama dan email Anda di bawah ini




BERMANFAAT? Boleh SHARE Klik Di Bawah Ini

0

Catagories

SEARCH